|
POSTULAT DARI
AUDITING
Moh. Mahsun, M.Si, Ak.
SIFAT DARI POSTULAT
Berdasarkan berbagai tulisan para ahli logika dan
filsafat kita dapat menentukan lima karakteristik umum dari suatu postulat.
Karakteristik tersebut mampu membantu pemahaman kita terhadap fungsi dari
postulat. Karakateristik tersebut adalah:
1. Postulat merupakan dasar
untuk membangun suatu disiplin intelektual.
2. Postulat merupakan
asumsi-asumsi yang tidak bisa dibuktikan secara langsung
3. Postulat menjadi suatu
pedoman dalam melakukan inferensi
4. Postulat sebagai dasar untuk
membangun suatu struktur teori
5. Dalam pengembangan ilmu
pengetahuan lebih lanjut, suatu postulat sangat mungkin menghadapi
tantangan-tantangan.
Meskipun suatu postulat tidak bisa dibuktikan secara
langsung bukan berarti tidak mempunyai dasar kenyataan atau kebenaran. Menurut
para ahli suatu postulat harus mendekati kebenaran. Menurut Churchman postulat
yang bisa membantu kita melihat reliabilitas dan manfaatnya dalam suatu
struktur teori mempunyai beberapa syarat. Syarat tersebut adalah 1)harus
konsisten dengan yang lain, 2)mempunyai kandungan yang cukup dalam mendukung
atau membuktikan teori-teori tertentu. Jadi postulat ini sebetulnya merupakan
dasar untuk mengembangkan teori akuntansi lebih lanjut.
POSTULAT DARI AUDITING
Sebetulnya kita bisa melihat banyak sekali postulat
yang sudah berhasil dibangun namun sebaliknya dalam auditing kita masih belum
mempunyai pedoman yang kuat untuk membuat kesimpulan-kesimpulan. Sebetulnya
kita tidak ingin menggunakan asumsi-asumsi auditing yang tidak nampak tegas
seperti ini. Kalau kondisinya seperti ini bagaimana kita bisa menetapkan suatu
sistem dari postulat auditing. Tentunya hal ini bisa dilakukan jika kita melakukan
studi terhadap sifat dan aktivitas auditing dengan cermat dan hati-hati. Dengan
demikian kita bisa menentukan implikasi, kelengkapan, dan konsistensi suatu
sistem yang dikembangkan berdasarkan postulat auditing ini. Postulat auditing
ini sebenarnya bisa dibangun berdasarkan judgment
terbaik setelah mempertimbangkan pemikiran-pemikiran tertentu dan berbagai
eksperimen.
POSTULAT
TENTATIF DARI AUDITING
1. Laporan Keuangan dan Data
Keuangan adalah Dapat Dibuktikan. Dalam ilmu filsafat variabilitas merupakan dasar
dari pernyataan-pernyataan logis. Kita bisa lebih memahami arti kata ini jika
kita mengetahui bagaimana cara kita memverifikasi pernyataan-pernyataan dan apa
pengujian-pengujian yang harus kita lakukan agar bisa menentukan pernyataan tersebut benar atau salah. Verifikasi ini
merupakan cara membuktikan suatu pernyataan sehingga kita mempunyai tingkat
keyakinan tertentu tentang suatu proposisi. Dengan didukung dengan prosedur
verifikasi tertentu kita harus memperoleh competent
evidential matter. Berkaitan dengan postulat bahwa laporan keuangan dan
data keuangan harus dapat dibuktikan menjadi dasar kita dalam mengembangkan
teori berdasar evidence dan proof yang kita temukan. Dalam hal ini
yang perlu diperhatikan adalah metode dan prosedur dalam memverifikasi ini.
Sebagaimana dalam perencanaan program auditing kita mengembangkan teknik
tertentu dengan sifat dan keterbatasan masing-masing untuk digunakan dalam
investigasi.
2. Tidak Terjadi Perbedaan
Kepentingan antara Auditor dengan Manajemen. Pihak manajemen lebih berkonsentrasi pada
peningkatan kemajuan perusahaan dengan pesat sementara kepentingan anuditor
adalah menyediakan tingkat jaminan tertentu terhadap data keuangan sehingga
bisa digunakan sebagai dasar keputusan-keputusan penting. Jadi sebetulnya justru
tercipta keadaan yang saling menguntungkan sehingga dalam postulat auditing ini
diasumsikan tidak ada conflict of
interest antara auditor dan manajemen. Namun demikian landasan berfikir
dari postulat tentatif ini sebetulnya adalah kita mengasumsikan hubungan
auditor – manajemen tidak diperlukan terjadinya konflik namun demikian bukan
mustahil akan ada konflik.
3. Tidak Terjadi Kolusi dan
Pelanggaran Terhadap Peraturan yang Ada. Hal ini berarti laporan keuangan yang diaudit
harus bebas dari kolusi dan kemungkinan penyimpangan terhadap regulasi yang
ada. Kondisi ini tentunya sangat menyulitkan posisi auditor karena auditor
harus merancang program audit jangka panjang dengan banyak mempertimbangkan
kondisi-kondisi saat ini. Pada dasarnya pengujian terhadap terjadinya kolusi
merupakan pengujian yang sulit diaplikasikan.
4. Efektifitas Sistem Pengendalian Intern Bisa Mengeliminasi Kemungkinan
Terjadinya Kondisi Irregularities. Luas tidaknya suatu program audit sangat
tergantung dari efektifitas sistem pengendalian intern. SPI yang cukup baik
(efektif) mampu mengeliminasi kemungkinan (probability)
terjadinya kondisi irregularities. Kita
menggunakan istilah probabilitas bukan posibilitas karena masih adanya keragu-raguan bahwa irregularities ini pasti bisa dieliminasi.
Namun kondisi irregularities kemungkinan
akan selalu terjadi sehingga sebetulnya sangat mempengaruhi jasa auditing.
5. Penerapan Prinsip Akuntansi Yang Berterima Umum Secara Konsisten Dalam
Menyajikan Posisi Keuangan dan Hasil Operasi. Dalam menilai kewajaran penyajian laporan
keuangan auditor harus mempunyai standar untuk kriteria. Standar tersebut adalah prinsip akuntansi yang berterima
umum (PABU / GAAP). Seorang auditor juga sebagai akuntan. Hal ini sekaligus memicu
untuk terus mengembangkan standar akuntansi yang mana nanti bisa digunakan
sebagai pedoman. Kadang suatu standar akuntansi tidak bisa memuaskan semua
pihak karena perbedaan persepsi dan juga beragamnya jenis industri perusahaan.
6. Kebenaran yang diyakini terjadi pada masa lalu akan menjadi pedoman di Masa Datang. Tidak sedikit auditor yang
dapat mengamsumsikan bahwa pedoman kebenaran masa lalu akan menjadi pedomana
kebenaran di masa datang. Mereka tidak mempunyai dasar untuk menerima atau
menolak suatu asersi misalnya dalam penilaian piutang dan persediaan, manfaat
ekonomis dari aktiva tetap, atau efektifitas SPI.
7. Seorang auditor bertindak semata-mata sebagai seorang auditor. Meskipun
seorang auditor harus melayani penugasan audit oleh kilen dia harus tetap
independen. Demikian juga hak auditor untuk menyelenggarakan jasa lain selain
auditing tidak boleh mempengaruhi independensi auditor. Aspek independensi
harus tetap menjadi pedoman dalam auditing.
8. Status Profesional hendaknya sepadan dengan tanggung jawab auditor. Auditor menyandang status profesional
yang diakui masyarakat. Dengan demikian maka mereka harus bertanggung jawab
secara profesional. Auditor harus menerapkan standar auditing yang sudah
ditetapkan.
POSTULAT SEBAGAI SUATU GROUP
Dalam rangka memanfaatkan postulat-postulat auditing, kedelapan
postulat sebagaimana diuraikan di atas tidak bisa berdiri sendiri. Postulat
satu membutuhkan postulat yang lain demikian sebaliknya.Tidak ada postulat yang
saling kontradiksi satu sama lain.
PERSYARATAN DARI POSTULAT
Susanne K. Langer menyatakan syarat-syarat utama
suatu postulat antara lain:
1. Coherence. Setiap postulatdalam
sistem harus koheren (mempunyai pertalian) dalam suatu struktur konseptual.
2. Contributiveness. Postulat akan berimplikasi lebih lanjut terhadap
proposisi dari sistem
3. Consistency. Postulat tidak akan kontradiksi dengan beberapa postulat yang lain
yang sudah diterima.
4. Independence. Postulat tidak akan dipengaruhi oleh postulat lain baik secara
bersama maupun satu demi satu.
|